tumbuh kembang anak - Peran Orangtua Dalam Mengembangkan Minat Bakat Anak

Peran Orangtua Dalam Mengembangkan Minat Bakat Anak

Orangtua menaruh harapan besar terhadap anak-anaknya. Dan kita pun demikian sebagai orangtua, memiliki harapan yang besar terhadarp anak dalam berbagai aspek kehidupannya. Termasuk kehidupan pendidikannya, baik secara akademis maupun non-akademis. Beberapa orang memisahkan keduanya, meskipun keduanya secaraan bersamaan memiliki kontribusi yang kuat pada masa depan anak dan arah kesuksesan anak nantinya.

Namun Anda juga seringkali dilanda kebingungan dalam memfasilitasi belajar anak. Sehingga seringkali muncul pertanyaan seperti, “Apakah saya harus mengikutkan anak dalam kursus?” atau keraguan semacam, “IQ anak saya hanya rata-rata saja, tidak seperti teman-temannya,”

Pertanyaan-pertanyaan yang demikian seringkali menghantui benak kita. Dan tanpa kita sadari, kita meragukan kemampuan anak kita sendiri. Karena secara tidak langsung Anda telah membandingkan kemampuan anak Anda dengan temannya.

Untuk keberhasilan anak, Anda sebagai orangtua pasti rela melakukan apapun, bahkan bisa saja melakukan hal yang sebenarnya tidak disukai oleh anak. Misalnya dengan mendaftarkan anak Anda dalam kursus pelajaran tanpa menanyakan persetujuan anak terlebih dahulu. Memaksakan anak mengikuti kursus dengan alih agar prestasi anak Anda meningkat.

Padahal terdapat hal yang lebih bermanfaat dari sekedar mendaftarkannya pada kursus pelajaran. Hal ini dapat Anda lakukan sendiri dan juga menghemat biaya.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan minat dan bakat anak ialah:

1. Anda perlu menunjukan minat terhadap bidang tertentu

mendidik anak - Peran Orangtua Dalam Mengembangkan Minat Bakat Anak

Anda harus menjadi contoh dan panutan kepada anak. Pernah mendengar istilah ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’? Begitulah anak Anda. Jika Anda menunjukan ketertarikan terhadap bidang tertentu, demikian juga anak. Misalnya memiliki hobi olahraga, membaca, menulis, atau memasak. Semakin sering Anda menunjukan hal tersebut, anak pun bisa juga mengikuti kebiasaan Anda, atau memiliki kebiasaannya sendiri.

2. Menciptakan lingkungan rumah yang baik

edukasi anak - Peran Orangtua Dalam Mengembangkan Minat Bakat Anak

Tahukah mengapa kupu-kupu dapat terbang dengan baik? Karena pada masa kepompong, ia mendapat asupan gizi yang baik pula. Anak yang sukses juga demikian. Mereka berasal dari lingkungan rumah yang baik. Keberhasilan anak bukan ditentukan dari seberapa baik tempat kursusnya. Melainkan seberapa baik lingkungan rumah tempat ia berada selama ini. Tempat dimana orangtua berperan serta dalam kegiatan intelektual anak, atau dalam permainan yang meningkatkan daya pikir anak.

3. Dengar dan jawab pertanyaan anak

mendidik anak - Peran Orangtua Dalam Mengembangkan Minat Bakat Anak

Anak pada masa tumbuh kembangnya memiliki rasa penasaran dan ingin tahu yang sangat luar biasa. Maka tak heran jika anak seringkali melakukan hal-hal baru untuk memuaskan rasa ingin tahunya tersebut. Anda sebagai orangtua berperan sebagai ‘kamus’ untuk anak. Sempatkan diri Anda untuk mendengar dan menjawab pertanyaan anak dengan sungguh-sungguh. Namun, jika pertanyaan anak terlalu rumit, Anda dapat mengajak anak untuk mencari jawabannya bersama-sama agar lebih menyenangkan.

4. Kunjungi tempat wisata edukasi

edukasi anak - Peran Orangtua Dalam Mengembangkan Minat Bakat Anak

Untuk mengembangkan minat anak terhadap suatu hal, Anda perlu melakukan beberapa kegiatan di luar rumah. Salah satu caranya ialah dengan mengajak anak keluar rumah dan mengunjungi tempat-tempat wisata edukasi untuk anak. Anda dapat mengajak anak ke museum, perpustakaan, tempat bersejarah, pusat kebudayaan dan kesenian, pusat sains, dll. Dengan demikian Anda baru dapat memahami dimana minat anak sesungguhnya. Dan Anda dapat mengarahkan anak sesuai minatnya tersebut. Selain itu, dengan membawa anak rekreasi, Anda memberi anak kesempatan untuk bertemu dengan orang lain yang memiliki keahlian tertentu.

5. Biarkan anak melakukan hal sendiri

tumbuh kembang anak - Peran Orangtua Dalam Mengembangkan Minat Bakat Anak

Penting untuk anak sejak usia dini dapat melakukan suatu hal dengan dirinya sendiri. Awalnya, Anda perlu mendampingi anak. Misalnya ajarkan anak bagaimana caranya menyeduh susu untuk diri mereka sendiri. Hal ini dilakukan untuk memupuk kemandirian, kepercayaan diri, dan rasa tanggung jawab kepada anak.

Pendiri Intrinsic Institute, Dr. Brian Davidson, adalah salah satu orang yang menaruh perhatian pada tema ini. Sebagai seorang guru pula, ia tertarik untuk menjawab pertanyaan tentang apa bekal penting yang harus dimiliki murid-muridnya untuk berhasil dalam studinya.

Alih-alih fokus pada faktor-faktor yang secara umum kita kenal dapat memicu keberhasilan anak, seperti IQ dan kemampuan kognitif, ia justru mengungkapkan bahwa banyak kemampuan non-kognitif yang patut menjadi bekal anak.

Misalnya, ia menunjukkan hasil penelitian Angela Duckworth dan Martin Seligman bahwa disiplin diri dua kali lebih baik ketimbang IQ dalam memprediksi keberhasilan akademik seorang anak. Ini seperti banyak kasus yang sering kita dengar – anaknya tidak terlihat pintar, namun karena dia tekun, sang anak lalu jadi terampil di bidang bakat yang ditekuni.

Apa saja kemampuan non-kognitif yang dimaksud oleh Dr. Brian? Yang dimaksud adalah berbagai bekal yang berkontribusi dalam pengembangan bakat anak, yang sulit diukur dalam berbagai tes, termasuk tes IQ. Ketekunan belajar, pantang menyerah, growth mindset yang akhir-akhir ini kita sering dengar, kemampuan untuk bangkit dari kegagalan, jelas lebih sulit diukur dalam berbagai tes kecerdasan.

Namun tes kecerdasan maupun ujian lebih sering dijadikan patokan dalam menentukan “nasib” anak. Paradigma ini pula yang menyebabkan kita seringkali lebih fokus pada hasil ketimbang proses belajar.

Padahal, proses belajar dan pengembangan bakat anak seringkali akrab dengan tantangan, hambatan, dan kegagalan. Namun sistem persekolahan misalnya, membuat kita malu melihat seorang anak tidak naik kelas, meskipun hal tersebut mungkin menjadi pembelajaran yang berharga bagi anak.

Itu sebabnya, selain membekali diri dengan konten belajar – membaca, berhitung, menulis, memasak, atau bakat apapun yang ditekuni anak – anak perlu belajar dan membekali dirinya dengan berbagai kemampuan non-kognitif yang telah disebutkan di atas.

Misalnya, anak yang sering juara lomba melukis, lalu kemudian tidak mendapat juara di lomba berikutnya, mungkin merasa kecewa. Hidup memang bukan hanya perlombaan, namun perlombaan juga menjadi bagian dari hidup dan pengembangan bakat anak.

Dalam kejadian ini, ayah ibu bisa mengobrol dengan anak tentang bagaimana bangkit dari kegagalan. Atau sebaliknya, anak yang tidak pernah dapat juara lomba melukis pun bisa belajar bagaimana menumbuhkan sikap pantang menyerah. Tidak dapat juara bukan berarti anak harus berhenti melukis, bukan?

Namun perlu diingat bahwa orangtua harus dapat membedakan antara tindakan “memberi perhatian dan kesempatan mewujudkan bakat” dengan tindakan “memaksa anak untuk berprestasi.” Bakat seorang anak bukan sesuatu yang siap jadi, tetapi diperoleh dari, dan ikut dibentuk oleh lingkungan.

About the Author

By rachel / Editor, bbp_participant

Follow rachel
on Dec 22, 2017

No Comments

Leave a Reply