psikologi anak - Komunikasi Orangtua dengan Guru

Komunikasi Orangtua dengan Guru yang Penting untuk Meningkatkan Proses Belajar Anak di Sekolah

Komunikasi mendasari semua hubungan interpersonal. Apa yang kita pikirkan dan rasakan dapat kita transmisikan melalui komunikasi dengan orang lain. Semua bentuk komunikasi yang kita ciptakan membentuk hubungan dengan orang lain akan seperti apa.

Baca juga Hal-hal yang Memengaruhi Antusiasme Anak di Sekolah untuk Memprediksi Masa Depan Anak.

Sebagai orangtua, hubungan yang paling penting untuk dibangun dan dibentuk ialah dengan anak. Membangun hubungan yang baik dengan anak dapat memengaruhi proses belajarnya. Salah satu caranya ialah dengan berkomunikasi dengan guru di sekolah.

Komunikasi merupakan hal penting dalam proses belajar anak, karena komunikasi dapat membangun hubungan. Anak mengalami proses pembelajaran dari level satu, ke level dua, dan seterusnya. Dalam proses tersebut, akan lebih efektif jika Anda membangun hubungan dengan guru anak Anda untuk menemukan kebutuhan anak ketika belajar.

Seorang anak yang telah memasuki usia sekolah akan lebih banyak menghabiskan waktunya di sekolah daripada di rumah. Berbeda ketika sebelum sekolah, orangtua berperan menjadi guru dalam rumah. Ketika sekolah, guru yang berperan sebagai orangtua di sekolah.

Seluruh pembelajaran anak di rumah, hanya perlu dibenahi oleh guru di sekolah. Jadi, komunikasi antara guru dan orangtua pun perlu terjaga. Bukan hanya anak dengan guru, atau anak dengan orangtua.

Komunikasi akan semakin diperlukan ketika guru menjelaskan topik baru kepada anak. Guru seharusnya menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami agar anak dapat dengan mudah memahami materi yang diajarkan.

Namun ketika anak belajar hal baru di sekolah, orangtua tidak lantas menyerahkan segala proses belajar kepada guru dan anak. Di rumah, orangtua masih menjadi guru yang membimbing anak.

Oleh karena itu, penting menjaga komunikasi Anda dengan guru di sekolah. Dengan membangun hubungan yang baik antara guru dan orangtua, Anda turut membantu keperluan anak dalam proses belajarnya.

Selain itu, dengan menjaga komunikasi dengan guru, Anda dapat mengetahui tingkat kompetensi anak di sekolah dan bagaimana anak belajar di kelas. Menyadari kinerja anak di sekolah dapat membantu Anda dalam menentukan keputusan yang tepat dalam mendukung anak belajar di rumah.

Dan penting pula Anda melakukan komunikasi dua arah. Tidak hanya Anda mendapat informasi mengenai bagaimana anak belajar di sekolah. Tapi Anda juga memberi informasi kepada guru mengenai bagaimana anak belajar di rumah. Terutama jika terdapat perubahan penting dalam proses belajarnya.

Ketika orangtua saling mengetahui bagaimana cara belajar anak yang baik, di sekolah maupun di rumah, maka kedua pihak dapat saling menemukan bagaimana pendekatan yang tepat untuk membantu anak belajar dengan baik.

Dalam menjaga komunikasi dengan guru di sekolah, ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan:

1. Jangan sampai anak mengetahui bahwa Anda menghubungi guru di sekolah

Ketika anak mengetahui bahwa Anda sering menghubungi guru di sekolah untuk menanyakan kinerja anak, anak akan merasa tidak bebas. Segala hal yang ia lakukan bukan lagi atas kemauannya sendiri, karena secara tidak disadari kelakuannya akan berubah menurut kemauan Anda. Memang akan baik jika berjalan ke arah positif, namun jika anak menganggap Anda sebagai “penguntit” di sekolah, akan mengganggu proses belajarnya.

2. Jangan paksakan kehendak

Guru-guru anak Anda tidak hanya memiliki satu murid, yaitu anak Anda. Pikirkanlah bahwa ada saja orangtua lain yang menghubungi guru untuk menanyakan anak mereka. Oleh karena itu, jangan terlalu memaksakan kehendak Anda untuk diberlakukan kepada anak Anda.

3. Tidak menyerahkan seluruh tugas mengajar kepada guru

Ingatlah selalu bahwa Anda masih menjadi guru terbaik anak-anak saat di rumah. Jika sebagian orangtua berpendapat ketika anak sekolah, seluruh tanggungjawab mendidik anak adalah tugas guru, itu merupakan salah besar. Ketika Anda sudah mengetahui kinerja anak di sekolah, Anda pun turut bertugas mendidik anak di rumah, tidak menyerahkan seluruhnya kepada guru di sekolah.

4. Dorong anak dengan halus, tidak memaksa

Ketika guru memberitahu Anda bahwa ada yang salah dengan cara belajarnya di sekolah, misalnya kurang fokus atau tidak dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Dorong anak untuk dapat berkonsentrasi di sekolah. Namun dengan cara yang halus dan tidak memaksa. Misalnya, dengan memberi anak latihan menyusun puzzle atau menyelesaikan teka-teki di rumah. Hal tersebut dapat membantu meningkatkan fokus anak.

5. Tidak mengekang anak

Ketika prestasi anak tidak terlalu baik di sekolah, Anda menuntutnya untuk selalu belajar dan belajar di rumah. Di sekolah ia mengalami proses belajar yang berat dan membuatnya penat. Kemudian Anda terus memaksanya untuk belajar di rumah. Hal tersebut tidak akan berdampak efektif pada proses belajarnya. Sebaliknya, ia akan semakin tertekan dan memiliki pengalaman belajar yang negatif.

Setelah melalui beberapa perbincangan dengan guru, Anda pun dapat membuat rencana mengenai apa saja yang harus Anda lakukan untuk mendidik anak di rumah. Berikut rencana yang dapat Anda terapkan kepada anak di rumah:

1. Ciptakan pengalaman belajar yang positif

Belajar tidak selalu menyenangkan. Bagi sebagian anak, belajar merupakan beban yang dialami di sekolah. Beratnya topik di sekolah menjadikan anak merasa terbebani. Tugas orangtua di rumah ialah menciptakan pengalaman belajar yang positif. Ketika di sekolah ia mendapatkan pekerjaan rumah (PR), yang perlu Anda lakukan ialah melakukan brainstorming.

Misalnya saja PR matematika, untuk menyelesaikannya, Anda dapat mengajak anak bermain teka teki terlebih dahulu untuk merangsang sel otaknya. Stimulan yang demikian mampu mengirim pesan kepada otak bahwa belajar itu menyenangkan.

2. Memenuhi kebutuhan anak saat belajar

Ketahui anak tertarik pada bidang apa dan lebih didominasi otak kiri atau otak kanan. Jika anak didominasi otak kiri, ketahui bahwa ia lebih menyenangi cara belajar yang komprehensif dan tenang. Ciptakan suasana belajar yang demikian saat di rumah. Arahkan anak untuk belajar sesuai urutan yang strategis. Namun jika anak didominasi otak kanan, ketahui bahwa ia menyukai cara belajar yang interaktif.

Anda dapat menemani anak belajar dengan gambar atau bentuk tertentu yang relevan dengan pelajarannya. Atau, Anda dapat menemani anak sambil mendengar lagu yang dapat membangkitkan motivasi belajarnya.

3. Memahami perspektif anak ketika belajar

Dalam hal ini, Anda juga berarti membangkitkan motivasi anak untuk belajar. Caranya ialah dengan berbagi cerita dan pengalaman anak sambil mendampinginya belajar. Misalnya ketika Anda sekolah dahulu, target apa yang telah dicapai. Hal ini juga membantu anak untuk menentukan targetnya sendiri.

4. Memperdayakan anak agar mengambil alih pembelajaran

Ketika motivasinya sudah terbentuk, otomatis anak akan mengambil alih proses belajarnya. Anda tidak perlu lagi mendampingi anak setiap waktu ketika belajar. Jika pada awalnya Anda perlu mendampingi anak belajar setiap hari, seterusnya Anda hanya perlu mendampinginya dua atau tiga kali dalam seminggu. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang Anda tanamkan akan menjadi sebuah kebiasaan yang membantunya dalam pengalaman anak belajar.

About the Author

By rachel / Editor, bbp_participant

Follow rachel
on Oct 31, 2017

No Comments

Leave a Reply