mendidik anak - Apa itu Learning by Doing?

Ketahui Konsep Learning by Doing yang Berguna Bagi Perkembangan Anak

Learning by doing atau yang dikenal dengan belajar dari pengalaman. Istilah ini kerap kali terdengar oleh kalangan pelajar dan juga orangtua. Sebuah kutipan menarik yang diungkapkan Albert Einstein berbunyi,

“Learning is experience. Everything else is just information”

“Belajar merupakan sebuah pengalaman. Hal lainnya hanya sebuah informasi”

Einstein sebagai seorang ilmuwan yang dihormati karena kecerdasannya mengakui bahwa belajar merupakan sebuah pengalaman. Sisanya hanya informasi tambahan untuk melengkapi pengalaman dalam belajar itu sendiri.

Belajar yang dimaksud tentu bukan belajar dengan membaca buku, menulis, atau berhitung. Belajar yang dimaksud ialah belajar melakukan segala sesuatu. Ketika seseorang belajar dengan sebuah praktek, akan lebih mudah baginya untuk lebih memahaminya.

Namun, apakah belajar dari buku sama baiknya, lebih baik, atau bahkan lebih buruk dari belajar dengan melakukan sesuatu?

Kalian yang berada di bangku kuliah, pernahkah kalian bertanya untuk apa kegiatan magang? Kalian sedang dipersiapkan untuk dapat merasakan secara langsung dunia kerja seperti apa, dan bagaimana kalian belajar menerapkan teori yang telah dipelajari selama kuliah.

Mungkin hal ini tidak disadari, tetapi semua manusia dari lahir telah belajar dengan melakukan, lebih dari sekedar teori. Misalnya saja, seorang anak yang belum mengetahui bagaimana rasa jeruk. Kemudian ia diberi tahu rasa jeruk ialah asam. Ia tidak akan dapat mengetahui seperti apa rasa asam tersebut sebelum ia dapat merasakannya secara langsung.

Atau ketika seorang anak ingin belajar berenang. Sang pelatih renang tidak cukup hanya memberi penjelasan tahapan berenang dari awal sampai akhir dengan teori. Ia harus mempraktekan secara langsung depan anak. Kemudian anak tersebut haruslah melakukannya sendiri dan belajar dari pengalaman yang ia lakukan tersebut.

Hal lainnya yang menunjukan bahwa belajar dengan tindakan lebih baik dari hanya sekedar belajar dengan buku. Sebuah riset di Amerika mengambil sekelompok mahasiswa yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok, A dan B Kedua kelompok tersebut sama-sama belajar cara menghias kue ulangtahun.

Kelompok A diberi buku tentang tahapan menghias kue. Mulai dari bahan apa saja yang diperlukan, perpaduan warna yang dapat memberi hasil terbaik, bagaimana cara membuat ornamen kecil seperti bunga dan pola pada kue, dan lain-lain.

Buku yang dipelajari oleh Kelompok A lengkap dengan tahapan secara detail dan juga gambar dari tahapan tersebut. Penjelasan dari tiap gambar juga diberikan secara rinci dan jelas. Kelompok A dapat dengan mudah dan cepat mempelajari itu semua.

Kelompok B mendapat kesempatan belajar menghias kue secara langsung oleh sang ahli, Lisa Mansour—Co Founder dan Co Owner NY Cake & Baking Supply. Kelompok ini dapat melihat dan mengamati tahapan menghias kue secara langsung dan juga belajar untuk mencobanya.

Peneliti memberikan waktu yang sama kepada kedua kelompok untuk belajar sebelum nantinya adu kemampuan. Ternyata, kelompok A dapat menyelesaikan waktu belajar mereka lebih awal. Mereka berkata bahwa gambar dalam buku sangat membantu ketika proses belajar sehingga mereka dapat belajar dengan cepat dan mudah .

Kelompok B, belajar lebih lama dari waktu belajar Kelompok A. Kelompok ini mulanya mengamati secara seksama kemudian mulai mencoba perlahan. Mereka juga mengalami kesalahan dan belajar bagaimana cara mengatasi kesalahan tersebut. Selanjutnya mereka mencoba mengulang melakukan hal yang sama tanpa melakukan kesalahan.

Setelah waktu belajar mereka selesai, kedua kelompok dipertemukan untuk adu kemampuan dari apa yang mereka telah pelajari. Kelompok A tidak boleh membuka buku ketika menghias kue dan Kelompok B tidak boleh bertanya pada Mansour.

Hasil yang mengejutkan datang dari kedua kelompok tersebut. Kelompok B berhasil menghias kue dengan rapih dan teratur. Mereka juga menghias dengan kreativitas mereka. Mereka menggunakan imajinasi seluas-luasnya.

Sedangkan Kelompok A, hanya menghias berdasarkan apa yang mereka lihat dari buku. Mereka hanya terpaku pada gambar yang terdapat dalam buku. Karena itu kali pertama mereka menghias, tentu terjadi beberapa kesalahan. Dan fatalnya, tidak dijelaskan dalam buku bagaimana cara mengatasi kesalahan. Sehingga hasilnya tidak terlalu rapih.

Dari hasil penelitian diatas, belajar dengan buku memang memakan waktu yang lebih singkat. Terlebih jika buku tersebut menyertakan gambar pendukung yang sesuai. Dan karena waktu belajar yang lebih singkat, terkadang sulit beradaptasi ketika pertama kalinya mencoba. Walau semuanya terekam dalam ingatan.

Belajar dengan bertindak secara langsung memakan waktu yang lebih lama. Karena membutuhkan konsentrasi untuk memahami hal tersebut. Tapi hal tersebut dapat melatih saraf motorik manusia agar terbiasa melakukan hal tersebut.

Belajar memang membutuhkan kedua elemen: buku dan pengalaman. Oleh karena itu terdapat program belajar luar kelas (study tour) bagi anak sekolah SD, SMP dan SMA. Bahkan sampai kuliahpun dapat belajar luar kelas hanya saja dengan cara yang berbeda, yaitu magang.

 

About the Author

By rachel / Editor, bbp_participant

Follow rachel
on Sep 27, 2017

No Comments

Leave a Reply