psikologi anak - Kata-kata Orangtua yang Dapat Mengubah Masa Depan Anak

Katakan Kepada Anak 8 Kalimat yang Mampu Mengubah Kehidupan Anak di Masa Depan

Menjadi orangtua bukan pekerjaan mudah. Di jaman modern, dimana banyak tuntutan pekerjaan, masalah keuangan, dan masih banyak faktor lain yang menghambat orangtua untuk membesarkan anak. Tidak seperti orangtua pada jaman dahulu yang mampu membesarkan sepuluh anaknya.

Kita mungkin kerepotan ketika membesarkan satu anak saja. Di samping itu, orangtua jaman sekarang memiliki dua tugas, mendidik anak untuk dewasa sambil mendewasakan dirinya sendiri. Banyak orangtua masih berusaha untuk tumbuh dewasa sambil membesarkan anak.

Meski demikian, nilai yang ditanamkan kepada anak harus tetap sama setiap generasinya. Jika dahulu kita diajarkan oleh orangtua kita untuk menghormati, rendah hati, mengampuni, memberi,  mengasihi, kesabaran, dan menjadi baik, nilai itulah yang harus kita tanamkan juga kepada anak.

Merupakan sebuah pilihan yang berat untuk memilih antara pekerjaan atau anak. Orangtua bekerja untuk menafkahi anak, di sisi lain anak lebih berharga daripada pekerjaan. Bagaimana cara membagi rata keduanya?

Banyak hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mendidik anak. Meluangkan lebih banyak waktu dengan anak menjadi pilihan tepat. Dengan mengajak anak berinteraksi bisa saja mengubah kehidupannya kelak. Anak yang terbiasa berinteraksi dengan orangtua akan lebih terbuka terhadap dunia luar, kepercayaan diri meningkat, dan kesuksesan menanti anak. Berikut beberapa kalimat yang mampu mengubah kehidupan anak:

1. Berikan apa yang kamu punya kepada oranglain, karena memberi akan memperkaya diri

Tak dapat dipungkiri bahwa kita memiliki pemikiran, “lakukan sesuatu yang akan membawa keuntungan kepada kita”. Memang benar tidak ada orang yang mau melakukan hal yang akan membawa celaka. Hal ini tidak baik ditanamkan kepada anak, mengapa? Karena akan mengubah pola berpikir anak untuk egois.

Ketika ia berpikir untuk melakukan sesuatu yang hanya dapat menguntungkan dirinya, ia menjadi egois dan tidak ingin berbagi. Berbagi hanya membuang kesempatan untuk memperkaya diri. Anak lebih mementingkan dirinya dibanding orang lain. Lalu bagaimana cara mengubah pola pikir demikian?

Anda dapat mengatakan bahwa dengan memberi bukan berarti kita akan miskin, tetapi sebaliknya. Ketika kita memiliki sesuatu untuk diberi kepada orang lain, berarti kita sedang memberi “sebagian dari kekayaaan” kepada orang lain.

Ajarkan kepada anak, bahwa memberi lebih berharga daripada menerima. Caranya mudah, ketika Anda membekali beberapa potong roti untuk anak ketika sekolah, ajarkan ia untuk berbagi kepada teman sebayanya. Karena dengan melihat senyum orang lain karena kebaikan kita merupakan penghargaan bagi diri sendiri.

2. Jangan mengharapkan imbalan ketika memberi kepada orang lain.

Banyak orangtua telah mengajarkan untuk memberi, namun merupakan hal penting yang satu ini. Dengan memberi, kita tidak selalu mendapat imbalan yang setimpal. Ketika Anda mengajarkan anak dengan memberi kita akan mendapatkan yang lebih, akan membuat anak Anda memberi dengan mengharapkan imbalan.

Ketika imbalan yang didapat tidak sesuai ekspektasi, yang terjadi ialah anak tidak ingin memberi lagi. Memberi tidak selalu membawa imbalan positif. Hal inilah yang harus diajarkan kepada anak.

Ketika anak memberikan sepotong roti bekalnya kepada teman, tak lantas keesokan hari temannya juga memberi sepotong roti. Ajarkan anak untuk memberi dengan tidak mengharapkan imbalan. Jikalau ada imbalan, itu merupakan “bonus” dari apa yang sudah diberikan. Karena barang dapat punah tetapi jasa akan tetap diingat.

3. Jangan menyerah, kamu dapat melakukannya!

Banyak anak mudah merasa putus asa. Ketika nilai pelajaran di sekolah tidak mencapai standar, ia merasa dirinya tidak pandai. Sebagai orangtua, terkadang merasa kesal dengan nilai anak yang rendah. Secara tidak sadar, Anda sering berucap, “begini saja tidak bisa”. Amati senyum anak akan berubah menjadi kesedihan. Ketika bahunya turun, berarti ia sedang putus asa.

Sebaiknya hindari penggunaan kata-kata yang semakin menurunkan semangatnya. Bayangkan saja, dalam pekerjaan Anda, atasan Anda selalu merendahkan Anda. Tentu Anda tidak menyukai hal tersebut, bukan? Mengapa harus dilakukan juga kepada anak?

Memberi anak semangat tentu bukan hal mudah, tetapi juga tidak sulit dilakukan. Caranya mudah, katakan hal yang dapat menyemangati anak. Ketika nilai anak rendah, apresiasi usahanya dan dorong untuk melakukan hal yang lebih. Hal ini mampu membangun kepercayaan diri akan kemampuannya.

4. Jangan takut salah, karena salah tidak akan menjadi benar jika tidak dilalui.

Untuk tumbuh dan berkembang, kita harus melalui beberapa hal. Kita bisa saja jatuh, kecewa, dan gagal. Tapi tentu itu bukan menjadi penghalang untuk terus meraih mimpi, bukan? Inilah hal yang harus diajarkan kepada anak sebelum mereka tumbuh dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri.

Ajarkan kepada anak Anda ketika mereka jatuh dan satu pintu tertutup untuk mereka, bukan berarti pintu yang lain juga tertutup. Berarti pintu tersebut bukanlah yang tepat. Ajarkan untuk selalu melihat peluang dimana terjadi kegagalan. Ketika anak gagal dan dapat belajar dari kegagalan, mereka mulai bertumbuh.

5. Bersyukur setiap hari, dengan hal sekecil apapun.

Tidak peduli seberapa berat kehidupan yang sedang dialami, ajarkan anak untuk selalu bersyukur di setiap keadaan setiap harinya. Bersyukur ketika masih memiliki atap untuk berteduh, air untuk diminum, makanan untuk dimakan, dan orang-orang yang dikasihi sekitar kita.

Bagi sebagian orangtua, mengajarkan kepada anak untuk bersyukur setiap saat terlalu berat. Belum banyak anak yang mengerti akan perkataan tersebut. Tetapi disinilah kesempatan Anda untuk mendidik anak. Dengan membiasakan anak untuk bersyukur, ia tidak mudah tergoda untuk memiliki sesuatu secara berlebihan.

Ajarkan anak apa yang sebenarnya penting dan benar-benar dibutuhkan di usia muda, dan mereka akan mengingatnya sepanjang hidup mereka. Ajarkan untuk selalu bersyukur atas apa yang mereka miliki dan tidak menuntut memiliki sesuatu diluar kebutuhan mereka.

6. Perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan oleh orang lain.

Sikap menghormati orangtua juga perlu ditanamkan sejak usia dini. Rasa menghormati dan menghargai merupakan kunci utama menuju masa depan sukses. Bagaimana memberi anak pengertian akan hal ini? Ketika anak ingin diperlakukan demikian oleh orang lain, maka ia harus memperlakukan orang lain seperti yang ia ingini. Misalnya, anak Anda tidak suka dijahili temannya.

Ajarkan kepada anak jika ia tidak ingin dijahili, maka ia juga tidak boleh menjahili temannya. Karena kita harus bersikap dan berperilaku kepada orang lain seperti kita juga ingin diperlakukan demikian.

Ingatkan selalu bahwa hukum tabur tuai masih berlaku. Ketika ia menabur yang baik, maka ia juga akan menuai yang baik. Begitu sebaliknya. Ketika menabur yang tidak baik, maka hasil tuaian juga tidak baik. Karena melakukan hal yang baik tidak perlu waktu untuk bertanya apakah orang lain layak mendapatkannya atau tidak.

7. Selalu ikuti kata hatimu.

Dunia selalu menawarkan kehidupan di jalan yang berbeda. Ketika kita memilih sebuah jalan kehidupan, kita tidak akan dapat kembali lagi. Bagaimana menentukan jalan hidup sendiri? Tanyakan pada diri sendiri, karena kompas arah terletak pada diri sendiri bukan pada orang lain.

Tanyakan pada diri sendiri apa yang menjadi kerinduan terdalam ketika menjalani hidup. Kemudian ikuti kata hati. Dengan mengikuti kata hati, itulah satu-satunya cara untuk merasa hidup.

Ajarkan kepada anak Anda bahwa hidup mungkin tidak berjalan sesuai rancangan mereka. Tetapi untuk terlepas dari apa yang dunia katakan, dengarkan kata hati sendiri dan bukan apa kata dunia. Katakan kepada anak, lihatlah apa yang ada dalam diri mereka dan bukan mencari hal yang berada di luar. Karena dengan mengikuti kata hati, akan membimbing mereka menuju jalan yang sesuai.

8. Perlakukan lingkungan seperti rumah.

Banyak orangtua melupakan hal ini. Bumi yang kita tinggali kini tidak senyaman pada waktu Anda masih kecil. Banyak sampah, polusi, dan debu. Seakan orang-orang tidak lagi peduli akan kebersihan lingkungan. Mungkin hal ini terlihat ringan, namun dapat berdampak langsung bagi kehidupan anak di masa depan.

Ketika Anda mengajarkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya, Anda turut mengambil tanggungjawab untuk mempertahankan lingkungan yang bersih.

Ajarkan kepada anak untuk memerlakukan lingkungan seperti rumah sendiri. Ketika rumah terasa kotor, penghuninya tentu tidak nyaman. Ketika lingkungan kotor, penghuninya juga tidak merasa nyaman. Ajarkan anak untuk merawat lingkungan seperti merawat rumah sendiri.

About the Author

By rachel / Editor, bbp_participant

Follow rachel
on Sep 25, 2017

No Comments

Leave a Reply