mendidik anak - Apa yang Anak Dapatkan Ketika Orangtua Berteriak

Apa yang Didapatkan Oleh Anak Ketika Orangtua “Berteriak”?

Orangtua merasa berteriak merupakan sesuatu yang wajib dilakukan kepada anak. Ketika anak melakukan sebuah kesalahan atau tidak melakukan perintah orangtua, orangtua dengan mudahnya memarahi anak sambil berteriak, dengan dalih untuk mendisiplinkan anak. Namun yang menjadi fokus pertanyaan bukanlah mengapa orangtua berteriak, karena pasti terdapat banyak alasan. Tetapi apa efek yang didapat oleh anak ketika orangtua berteriak kepada mereka.

Berdasarkan penelitian Dr. Laura Markham, pendiri Aha! Parenting, mengungkapkan bahwa berteriak merupakan sesuatu yang tidak perlu dilakukan. Kita bisa berbicara dengan volume yang baik tanpa harus berteriak. Penelitian yang berkembang juga mengatakan bahwa berteriak atau cacian hanya membuat anak lebih agresif dan lebih cemas. Teriakan dengan volume suara yang keras akan mengejutkan anak. Ketika anak terkejut, detak jantungnya akan berdetak dua kali lebih cepat. Kala itu, keagresifan anak akan terpacu. Bukan hanya mengejutkan, namun juga menakutkan anak. Ketika anak mudah merasa takut, akan mengacaukan rasa percaya dirinya sehingga mereka mudah merasa cemas.

Dr. Markham juga mengatakan bahwa dengan berteriak tidak merusak otak anak, tetapi mengubahnya. “Katakanlah selama pengalaman menenangkan diri, neurotransmiter otak merespons dengan mengirimkan biokimia yang menenangkan agar kita aman. Saat itulah anak sedang membangun jalus saraf untuk tenang.” Ketika seorang balita yang masih belum mengerti banyak hal, mendapat cacian atau teriakan dari orangtua, hal sebaliknya terjadi. Anak itu akan melepaskan biokimia yang mengatakan “lawan, lari, atau diam”. Mereka bisa saja memukul orangtua. Mereka bisa saja melarikan diri. Atau mereka hanya diam terpaku sambil menutup telinga. Hal ini tentu tidak bagus bagi pertumbuhan otak anak. Mereka akan terus menerus merasa cemas. Jika hal ini terjadi terus menerus, maka akan menjadi sebuah kebiasaan dan mengubah bagaimana cara otak anak bekerja.

Bayangkan ketika Anda sebagai orangtua saat di ruang pertemuan, kemudian seseorang berbicara dengan menaikan suaranya sampai berteriak. Bagaimana perasaan Anda? Anda tidak akan merasa senang dengan perlakuan yang demikian. Lalu mengapa anak harus mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dengan teriakan? “Ketika orangtua mendisiplinkan anak dengan berteriak, tampak luar seperti anak tersebut akan mengikuti perintah Anda. Namun dalam hati mereka, mereka tidak akan terpengaruh dengan omongan Anda”, kata Dr. Markham. Ketika anak kecil dimarahi dengan teriakan, ia akan menangis. Ketika seorang remaja dimarahi dengan teriakan, ia tidak akan menangis, tetapi ia memendamnya. Hal ini akan membuat kepercayaan diri anak jatuh, bahkan mereka tidak akan mendengarkan ucapan Anda. Oleh karena itu berteriak bukanlah hal yang tepat untuk berkomunikasi dengan anak.

“Mendisiplinkan” menjadi hal yang sering terdengar akhir-akhir ini di dunia politik, pekerjaan, dan juga lingkungan bermain anak. Orangtua yang memarahi anak dengan berteriak mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan untuk mendisiplinkan anak mereka, agar mereka berperilaku dengan baik. Perilaku tersebut dianggap normal bagi orangtua karena anak akan beradaptasi dengan sendirinya. Namun sebenarnya, jika Anda ingin anak Anda disiplin, harus dimulai terlebih dahulu dari orangtua. Orangtua harus mendisiplinkan diri sendiri agar anak mengikuti perilaku orangtua. Caranya ialah orangtua menjadi model pengaturan diri sendiri.

Melalui sebuah penelitian, terbukti perilaku anak akan mengikuti perilaku orangtua mereka. Namun hal ini bukan berarti ketika anak Anda berbuat salah, Anda pun salah sebagai orangtua. Tidak demikian. Seiring berkembangnya anak, ia akan melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman yang ia lihat dan rasakan. Seorang anak menonton video bagaimana seorang petinju memukul karung tinju. Ketika anak tersebut dihadapkan dengan karung tinju yang serupa, ia akan ikut memukulnya dengan cara yang sama seperti petinju yang ia tonton tadi. Oleh karena itu, jika Anda ingin mendisiplinkan anak, orang dewasa harus terlebih dahulu menjadi contoh.

Lalu bagaimana cara yang tepat untuk mendisiplinkan anak? Anak tidak akan tahu ayah mereka sedang marah sampai ia berteriak. Dari sudut pandang seorang Ayah, berteriak mungkin salah satu cara mendisiplinkan anak. Namun ternyata hal ini hanya memperburuk keadaan. Dengan teriakan, anak terkejut dan merasa takut. Secara tidak langsung bahkan merusak kepercayaan dan hubungan antara Ayah dengan anak. Ada alternatif lain, dengan humor. Ketika Anda menanggapi kekesalan dengan tertawa dan tidak mengatakan apapun, Anda sedang mempertahankan otoritas Anda dan tetap menjaga hubungan dengan anak.

Humor bukan berarti Anda tidak dapat membedakan antara keadaan serius dengan keadaan santai. Dengan sedikit humor ketika Anda marah, akan meredakan kekesalan Anda dan menggantinya dengan kata-kata yang lebih bisa diterima oleh anak. Namun, ada kalanya Anda berteriak, hanya sekali dan untuk mendapatkan perhatian anak. Ketika anak mulai memfokuskan pikirannya kepada ucapan Anda, pelankan suara Anda dan berbicaralah dengan normal. Teriakan untuk menghentak agar anak memperhatikan. Karena pada dasarnya, teriakan hanya untuk memperingatkan, tetapi berbicaralah untuk menjelaskan. Teriakan terus-menerus tidak akan mendapat perhatian dari anak.

Ketika Anda merasa bahwa berteriak sudah merupakan cara Anda mendidik anak, disinilah Anda harus berubah. Dengan berteriak terus menerus kepada anak tidak akan mengubah perilakunya, tetapi mengubah pemikirannya. Sekali dua kali Anda berteriak, menjadi sebuah kebiasaan dan juga membangunnya untuk bersikap demikian kepada orang lain. Apakah Anda juga telah siap menerima teriakan dari anak Anda?

About the Author

By rachel / Editor, bbp_participant

Follow rachel
on Aug 03, 2017

No Comments

Leave a Reply