tempat wisata - Wisata Budaya Di Bangka Belitung

7 Wisata Budaya Bangka Belitung yang Wajib Dikunjungi

 

Bangka Belitung memang dikenal sebagai kepulauan yang kaya akan wisata pantai dengan batuan granit yang besar. Dan rasanya kurang jika membicarakan Bangka Belitung tanpa membahas kekayaan budaya yang terdapat di dalamnya.

Mungkin sebagian kita hanya memerhatikan tempat wisata yang bagus, tanpa melihat unsur kebudayaan suatu daerah tersebut. Dan tanpa disadari, sebenarnya itulah yang membedakan tempat tujuan wisata dengan tempat asal kita.

Indonesia memang terdiri dari beragam suku bangsa dan kebudayaan. Sehingga tak heran, budaya di Bangka Belitung juga sangat beragam.

Sebagai bagian dari rentang dan rumpun tanah Melayu, Pangkalpinang memiliki beragam adat istiadat dan budaya. Keanekaragaman etnis dari berbagai nusantara membentuk budaya yang unik dan menarik, serta kesenian tradisional yang terus berkembang pesat. Keanekaragaman budaya ini bersatu dalam sebuah kesatuan dan kebersamaan, sehingga tercipta rasa saling memiliki dan menghargai adat, tradisi dan budaya masing-masing. Keunikan-keunikan dari ragam budaya yang ada ini sangatlah menarik untuk Anda saksikan.

1. Tari Campak

Tarian ini merupakan salah satu jenis tarian tradisional yang ada di Bangka Belitung. Meski ada beberapa golongan yang mengatakan bahwa asal tarian ini dari Kepulauan Riau. Namun hingga saat ini, tarian ini sering dipentaskan di Bangka Belitung. Dan Anda dapat menyaksikannya dalam event peresmian tertentu yang diselenggarakan pemerintah Bangka Belitung.

Tarian ini menggambarkan kegembiraan yang ada di kalangan muda mudi. Oleh karena itu, diperankan oleh pasangan muda mudi, laki-laki dan perempuan.

2. Tari Perang Ketupat

Tarian ini memang memiliki nama yang unik, yaitu ada kata ‘perang’. Tari Perang Ketupat merupakan event yang diselenggarakan secara rutin sekaligus untuk mengenalkan tentang kebudayaan Bangka Barat.

Tarian tersebut juga memiliki arti, dan menurut cerita warga, tarian ini ditujukan untuk memberi makan roh halus atau roh ghaib yang ada di daratan yang sudah menjaga manusia. Meski demikian, sebagian mengatakan hal tersebut hanyalah mitos.

3. Upacara Buang Jung

Upacara ini diadakan ketika sedang terjadi musim angin barat, dimana para nelayan yang melakukan upacara ini memohon keselamatan ketika pergi berlayar. Rangkaian upacaranya berupa persembahan perahu kecil yang dihanyutkan ke laut berisikan beberapa hasil bumi dan dihiasi dengan daun kelapa.

4. Peh Cun

Peh Cun merupakan tradisi masyarakat Tionghoa untuk menghormati meninggalnya seorang bangsawan yang sangat dicintai rakyat bernama Qu Yuan (pada zaman dinasti Chu tahun 340 SM). Perayaan ini dilaksanakan setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek.

Masyarakat Tionghoa beramai-ramai melaksanakan ritual di Pantai (di Pangkalpinang dipusatkan di Pantai Pasir Padi). Prosesi ritual dilakukan mulai dengan sembahyang kemudian dilanjutkan beramai ramai membuang kue Chang ke laut (Kue yang terbuat dari Ketan dan diisi dengan daging atau udang) sebagai simbol penghormatan.

Pada tepat tengah hari tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek ada keunikan dimana telor Ayam mentah yang masih segar dapat didirikan dan air laut Pantai Pasir Padi mengalami puncak pasang surut yang sangat jauh sekitar 1 km.

5. Permainan Barongsai

Permainan Barongsai biasanya dilakukan pada saat upacara dan biasanya digelar saat bulan purnama atau pada acara acara khusus masyarakat keturunan Tionghoa seperti peringatan Imlek, Cap Go Meh, Sembahyang Rebut (Ghost Hungry), Sembahyang Kubur (Ceng Beng), Pot Ngin Bun, Peh Cun dan upacara kemasyarakatan lainnya.

Pada acara keagamaan biasanya pertunjukan Barongsai diadakan di Kelenteng kelenteng besar Kota Pangkalpinang, seperti Kelenteng Kwan Tie Miau, dan Kelenteng Satya Budi. Pertunjukan Barongsai juga sering dilombakan baik dalam rangka memperingati hari-hari besar umat Kong Hu Cu atau event kebudayaan dan kepariwisataan.

6. Pawai Ta’aruf

Pawai Ta’aruf, adalah pawai tradisional yang diikuti semua lapisan masyarakat dan diadakan dalam menyambut hari-hari besar Islam, yang mana sebagian besar mayarakat melakukan pawai keliling kota dengan menggunakan baju muslim yang beraneka ragam.

Sambil melantunkan salawat dan lagu-lagu Islami, mengusung replika Alquran dan poster berisi pesan menjauhi maksiat. Upacara ini diadakan dalam Pawai Ta’aruf ini menjadi tontonan yang menarik bagi wisatawan.

7. Tradisi Ruwahan

Ruwahan atau sedekah ruah merupakan upacara penyambutan terhadap kedatangan bulan suci Ramadhan. Ruwahan dilakukan pada pertengahan bulan Sya’ban sehingga sering disebut dengan Nisfu Sya’ban, pada bulan ini masyarakat biasanya melakukan acara bersih kubur dan ziarah ke kuburan keluarga masing masing.

Pada pekan pertengahan bulan Sya’ban masyarakat melaksanakan acara sedekah ruah dengan menyiapkan makanan, biasanya tidak ketinggalan gulai ayam atau daging sapi untuk disantap bersama baik oleh keluarga maupun oleh tetangga sekitarnya. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap arwah orang yang sudah meninggal dan merupakan warisan dari Hinduisme.

 

About the Author

By rachel / Editor, bbp_participant

Follow rachel
on Mar 27, 2018

No Comments

Leave a Reply