psikologi anak - Cara Menghadapi Kegelisahan Anak di Situasi Sosial

7 Cara Menghadapi Kegelisahan Anak di Situasi Sosial untuk Perkembangan Sosialnya

Tidak semua anak dapat beradaptasi terhadap dunia sekitarnya dengan baik. Terkadang, ada anak-anak yang masih saja menangis saat ditinggal orangtuanya di sekolah walaupun sudah menginjak usia lima tahun. Namun, ada pula anak yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi sehingga ia tidak mudah merasa gelisah saat berada di lingkungan baru sekali pun.

Bagi sebagian anak, menyesuaikan dengan situasi sosial yang penuh keramaian, entah itu pesta ulang tahun teman sebaya atau waktu bermain, dapat menjadi tantangan. Seorang anak yang sensitif akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menyesuaikan dan merasa nyaman dengan situasi tersebut.

Hal ini menjadi menyakitkan bagi orangtua yang menyaksikan anaknya berusaha keras untuk dapat beradaptasi dengan dunia sekitar. Yang seharusnya ia dapat bersenang-senang, tetapi jadi penuh tantangan untuk merasa nyaman.

Oleh karena itu, berikut beberapa tips bagi orangtua untuk menghadapi kegelisahan anak saat berada di situasi yang baru.

1. Sesuaikan Harapan

Jika kesulitan dalam dunia sosial telah menjadi sebuah pola, penting untuk diketahui bahwa ini merupakan bagian dari kepribadian anak Anda, dan bukan sebuah kekurangan. Rachel Busman, seorang psikolog klinis di Anxiety Disorders Center di Child Mind Insitute berkata, “hanya karena banyak anak menyukai pesta ulang tahun, itu tidak berarti bahwa ini adalah komentar pada anak bahwa mereka lebih gigih.”

Busman juga berpendapat bahwa orangtua perlu menghargai apa yang anak mereka rasakan. Karena orangtua memiliki jiwa untuk memahami dan mengerti perasaan orang lain, terlebih anak mereka.

Jika Anda mengingat masa kecil Anda, Anda pasti juga pernah mengalami hal yang anak Anda rasakan sekarang, yaitu merasa kesulitan beradaptasi dengan dunia luar. Dan sekarang, Anda akan berbohong jika Anda mengatakan bahwa Anda tidak merasa frustasi dengan keadaan anak Anda.

Namun, sebaiknya Anda tidak mengungkapkan rasa frustasi Anda kepada anak Anda. Hal tersebut hanya akan membuat anak merasa bersalah dan merasa dirinya kurang baik dibanding anak lain.

Jadi Anda perlu kembali menyesuaikan harapan Anda dengan anak. Ketika seorang anak duduk di pinggir lapangan sedangkan yang lainnya asik bermain bola, bukan berarti anak tersebut tidak menikmati waktunya. Sebenarnya ia sedang menikmati waktu sendirinya dengan mengamati orang lain. Kuncinya ialah, melepaskan harapan Anda tentang apa yang Anda mau, dan biarkan anak melakukan waktu pribadinya sendiri.

2. Temukan Akar Masalahnya

Begitu Anda menetapkan ada sebuah masalah, temukan masalah tersebut! Cari tahu apa yang menjadi tantangan bagi anak. Apakah anak takut menghadapi perpisahan? Takut bertemu orang baru? Takut berada di kelompok besar?

Atau ketakutan-ketakutan lainnya yang tidak diketahui. Amati kebiasaan anak ketika berada di situasi yang baru baginya. Kemudian Anda dapat menentukan strategi apa yang harus digunakan untuk menghadapi kegelisahan anak.

3. Pengetahuan adalah kekuatan mendasar

Bekali anak dengan pengetahuan yang banyak walau saat ia masih kecil. Hal kecil misalnya, ketika Anda dan keluarga akan menghadiri acara tertentu atau berlibur ke suatu tempat baru. Anda dapat memberi pengetahuan mengenai tempat apa yang akan dituju, dengan siapa saja, akan terjadi hal apa saja, bagaimana suasana di sana, dan lainnya. Pengetahuan kecil seperti ini sangat penting bagi anak yang mengalami kecemasan di tempat baru.

4. Mengambil waktu lebih awal

Bagi anak yang mengalami kegelisahan saat berada di tempat baru, akan tidak realistis untuk membiarkan mereka langsung masuk tepat waktu. Setidaknya, gunakan waktu lima belas menit lebih awal agar anak dapat menyesuaikan diri dengan tempat tersebut. Misalnya ketika anak akan menghadiri pesta ulang tahun temannya, antarkan ia lima belas menit atau setengah jam lebih awal dari jam seharusnya.

Biarkan ia menyesuaikan diri dengan tempatnya sebelum ada anak-anak lain yang mengacaukan pikirannya. Ketika anak terlarut dengan dirinya sendiri, ia akan lebih bebas untuk merasa nyaman. Anda pun perlu terbuka dengan orangtua lainnya mengenai situasi yang Anda hadapi agar mendapat pengertian dari luar.

Kemudian dorong anak perlahan untuk keluar dari zona nyamannya. Ketika pesta dimulai, dorong anak untuk menonton anak-anak lain, bahkan dari jarak yang lebih dekat. Kemudian bermain dekat mereka, dan lama-lama bermain bersama mereka.

5. Temukan teman

Pertemanan bisa sesederhana seperti menemukan kesamaan diantara keduanya. Terkadang orang dewasa pun akan lebih merasa nyaman ketika memasuki tempat baru dengan pasangan daripada sendiri. Mengapa tidak dengan anak? Anak pun demikian, ia akan merasa lebih nyaman ketika ada anak lain, yang sepadan dengannya, menjadi teman di tempat barunya.

Namun jika anak Anda kesulitan dalam menemukan teman, bantu dia dalam tahap awal. Seperti mencari kesamaan. Misalnya sepatu, warna pakaian, dan lain sebagainya. Hal ini dapat mempermudahnya untuk mendapat teman.

6. Ketahui kapan harus mendorong anak, kapan harus dibiarkan

Ada kalanya waktu untuk mendorong anak, tetapi ada kalanya juga Anda harus mundur dan membiarkannya terjadi. Orangtua perlu memiliki tingkat toleransi stress mereka sendiri. Misalnya ketika anak tidak ingin memiliki teman bermain, dorong anak dengan lembut.

Anda bisa mengenalkan anak perlahan dengan tetangga atau dengan anak yang berusia lebih muda. Kemudian bantu anak untuk mendekatkan diri dengan temannya. Misalnya dengan meminta anak untuk memberikan permen atau jelly padanya. Dengan tanda-tanda demikian, pertemanan anak juga dapat lebih intens.

Namun jika hingga tahap ini anak Anda tak kunjung ingin memiliki teman bermain, dan Anda mulai merasa penat, disitulah Anda harus berhenti. Karena jika Anda terus memaksakan diri, dapat lebih merugikan yang berakibat jangka panjang.

7. Temukan teman sepenanggungan

Jangan lupa mengurus diri sendiri. Anda mungkin sangat frustasi terhadap anak Anda, tapi jangan terlalu memusingkan hal tersebut. Ambil waktu tenang Anda bersama teman untuk membicarakan hal lain. Mungkin saja Anda dapat bertemu dengan orangtua lain yang mengalami hal serupa dengan Anda. Anda dapat menemukan orang lain yang juga mengerti posisi Anda.

Anda dapat mengungkapkan perasaan Anda dengan mereka yang menanggung hal yang sama. Keitka Anda dapat saling mendengar cerita masing-masing, Anda akan menyadari betapa bersyukurnya Anda mendapatkan anak yang penuh perasaaan sensitif di tengah dunia yang membutuhkan perasaan sensitif dan empati.

About the Author

By rachel / Editor, bbp_participant

Follow rachel
on Nov 07, 2017

No Comments

Leave a Reply