liburan keluarga - Kegiatan yang Dapat Dilakukan di Tana Toraja

4 Kegiatan Liburan Terbaik di Tana Toraja, Destinasi Eksotis di Sulawesi Selatan

Bukan tanpa sebab pemerintah mengajukan Tana Toraja menjadi situs warisan dunia UNESCO. Tana Toraja dinilai memiliki kebudayaan kuno yang masih lestari, sebut saja rumah adat yang biasa disebut dengan tongkonan, upacara pemakaman tradisional alias Rambu Solo, juga makam gantung yang ada di Londa.

Liburan keluarga atau liburan bersama teman tentu membutuhkan banyak waktu dan tenaga. Biasanya kegiatan apa saja yang Anda lakukan selama berlibur?

Tentunya Anda akan mencari tahu informasi mengenai daerah atau tempat yang akan Anda kunjungi, tempat menarik yang harus dikunjungi, berbagai kegiatan yang dapat Anda lakukan, dan mencicipi berbagai jajaran kuliner khas daerah tersebut.

Tana Toraja bukan hanya kaya akan warisan budaya yang masih ada sampai saat ini, namun juga kekayaan alam yang dapat dinikmati. Kekayaan budaya ini didukung pula dengan alam yang memukau. Diberkahi dengan tanah subur berbukit-bukit, hamparan hijau bisa Anda lihat sejauh mata memandang. Bila berencana berlibur ke Tana Toraja, Anda perlu tahu kegiatan apa saja yang wajiib dilakukan di sana agar wisatamu maksimal. Berikut ini kami rangkumkan lima yang terbaik:

1. Rambu Solo, upacara pemakaman termahal di dunia

Sulit menemukan upacara pemakaman semegah Rambu Solo di sudut lain dunia ini. Menghadiri upacara pemakaman ini, Anda akan menyaksikan bahwa masyarakat setempat rela menguras kantong demi melepas kepergian anggota keluarga dengan upacara perpisahan terbaik. Hal ini merupakan tradisi yang mereka lakukan turun temurun.

Terdapat tiga tingkatan penyelenggaraan Rambu Solo yang diatur berdasarkan kemampuan ekonomi keluarga, mulai dari To di Silli’ yang hanya membekali jenazah dengan telur ayam, sampai yang paling mahal yaitu To di Rapai’ yang berlangsung lebih dari tujuh malam dan mengorbankan puluhan hingga ratusan ekor kerbau serta babi.

Selama acara berlangsung, keluarga akan mengenakan pakaian serba hitam dan menyambut tamu dengan buah sirih, tembakau, juga permen. Di sini, Anda juga dapat menyaksikan berbagai tarian khas Tana Toraja dan adu kerbau juga babi sampai ke penyembelihannya. Puncak dari acara ini adalah jenazah yang diarak keliling kampung sebelum akhirnya dimakamkan di atas tebing.

2. Mengunjungi Londa, makam unik di atas tebing

Tak hanya upacara yang megah dan berbiaya mahal, tempat pemakaman di Tana Toraja ini juga terbilang unik karena berada di dalam gua pada dinding tebing. Gua pemakaman ini disebut dengan Londa dan dijadikan salah satu tempat wisata andalan. Jika Anda punya nyali yang besar, mengunjungi Londa adalah sebuah keharusan.

Londa terletak di Desa Sandan Uai, Kecamatan Sanggalangi, atau sekitar 7 km dari pusat kota Rantepao. Memasuki kawasan Londa, Anda bisa merasakan suasana mistis yang berbeda. Dinding tebing dilubangi serupa jendela dan menjadi tempat meletakkan tau-tau, patung kayu yang dibuat semirip mungkin dengan jenazah yang dimakamkan di Londa.

Nyalimu akan makin diuji saat memasuki gua karena suasana mistis yang terasa lebih nyata. Di dalamnya, terdapat ratusan peti mati dengan berbagai kondisi, mulai dari yang masih utuh sampai yang sudah hancur dengan tulang belulang berserakan. Peti yang hancur ini merupakan peti yang sebelumnya digantung dan terjatuh karena termakan usia.

Status sosial jenazah dalam masyarakat semasa hidup mempengaruhi ketinggian makamnya. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin tinggi peti matinya digantungkan dan semakin banyak pula benda berharga yang ‘dibawa’. Posisi peti yang lebih tinggi ini bisa sekaligus melindungi barang-barang ‘bawaan’ jenazah dari gangguan orang jahat.

Terbayang betapa mengerikannya, bukan? Tapi tenang saja, karena tempat ini aman karena sudah sering dijadikan sebagai tempat wisata bagi para wisatawan.

3. Mengagumi keindahan alam dan budaya di desa adat Kete Kesu

Desa Adat Kete Kesu merupakan salah satu perkampungan tertua di Toraja. Kete Kesu masuk dalam 10 kampung adat Tana Toraja yang diajukan sebagai warisan dunia UNESCO oleh pemerintah Indonesia. Sebagai salah satu kampung adat terpilih, Kete Kesu memiliki hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat setempat seperti tongkonan (rumah adat), alang (lumbung padi), rante (areal upacara adat), areal pemakaman, juga sawah untuk berladang.

Terdapat satu hal yang menarik. Jika Anda berkunjung ke desa ini, Anda akan melihat bahwa semua tongkonan di desa tersebut menghadap ke utara. Mengapa? Karena masyarakat setempat percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari utara dan mereka pun akan kembali juga ke utara. Wah unik, ya?

Masyarakat juga masih memegang nilai perbedaan status sosial. Hal ini dapat terlihat dari tanduk kerbau yang disusun secara memanjang dari atas ke bawah. Semakin banyak jumlah tanduk kerbau, maka menunjukkan status sosial pemilik rumah yang semakin tinggi pula.

4. Menyambut sunrise terindah di Batutumonga

Jika Jawa memiliki Dataran Tinggi Dieng sebagai Negeri di Atas Awan, Tana Toraja punya Batutumonga. Terletak di lereng Gunung Sesean, Batutumonga menjadi tempat terbaik untuk menyaksikan keindahan Tana Toraja dari ketinggian. Dari sini, Anda bisa menikmati sejuknya udara di pagi hari dan memandang hamparan persawahan milik masyarakat dan kerlip lampu kota Rantepao pada malam hari.

Yang tidak boleh Anda lewatkan ketika berada di Batutumonga adalah pemandangan matahari terbitnya yang tiada dua. Momen matahari terbit ini adalah saat-saat yang paling dinanti wisatawan karena warna jingga yang menerobos celah awan-awan tipis akan menjadi pemandangan cantik tak terlupa.

Agar tidak melewatkan pemandangan ini, disarankan Anda sudah bersiap sejak subuh. Banyak wisatawan yang tidak dapat melewatkan kesempatan indah ini setiap kali berkunjung ke Tana Toraja. Apa Anda rela melewatkannya?

 

About the Author

By rachel / Editor, bbp_participant

Follow rachel
on Mar 15, 2018

No Comments

Leave a Reply